Sudah Berabad-Abad, Istilah Kopi Robusta Premium Dikenal di Itali

Home » Artikel » Sudah Berabad-Abad, Istilah Kopi Robusta Premium Dikenal di Itali

Sudah Berabad-Abad, Istilah Kopi Robusta Premium Dikenal di Itali

Kendati kopi Robusta selalu diidentikkan sebagai kopi kelas kedua, bahkan dianggap sebagai anak tiri bila dibandingkan dengan kopi Arabika. Ternyata berbeda dengan di Itali. Kopi Robusta memiliki kelas tersendiri walaupun tidak ‘terlalu menonjol’. Karena ternyata selama berabad-abad, Coffee Roaster Italia telah memasukkan campuran Robusta 10-15% dalam kopi espresso premium. Mereka telah memasukkan biji kopi Robusta premium yang berasal dari Afrika, PNG, dan India.

Orang Italia tahu bahwa Robusta Premium dapat menghasilkan cawan yang lebih baik daripada Arabika tingkat rendah. Karena kendatipun 100% Arabika rendah tidak akan manpu memberikan sajian minuman yang berkualitas tinggi seperti minuman kelas para dewa.

Dari saking fanatiknya, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah tulisan Peter Baskerville yang berjudul “The case for the humble Robusta coffee bean”, mereka rela membayar minuman kopi dengan harga tinggi hanya untuk menghargai sebuah “perception of quality”.

Sementara pada tahun 1974, Erna Knutsen di Tea & Coffee Trade Juornal menggunakan istilah “Kopi special”. Istilah ini dipakai merujuk pada biji dengan rasa terbaik yang dihasilkan di daerah beriklim mikro istimewa. Penyebutan ini umum dipakai untuk kopi “gourmet” atau istilah “premium”.

Baru sejak tahun 2009, dikembangkanlah sebuah gagasan dan seperangkat protokol dalam mencapai kualitas prima yang mampu diraih oleh kopi Robusta, sebagaimana dengan gagasan speciality coffee pada Arabika. Kopi Robusta yang berkualitas paripurna itulah yang kelak disebut sebagai Fine Robusta yang dari segi skor, serupa dengan Arabika spesial, yakni di atas 80.

Kendati memang dari sisi penyebutan Fine Robusta masih kalah familiar daripada istilah Specialty Coffee. Karena kemunculannya masih terbilang baru di kalangan pecinta kopi Robusta.

Proyek lepas-landas terhadap kopi robusta pertama kali diterapkan di Uganda. Alasan dipilih Uganda lantaran negeri itu tempat ulayat kopi Robusta. Dikembangkan dan digagas pertama kali oleh Coffee Quality Institute (CQI) yang berkolaborasi dengan Uganda Coffee Development Authority (UCDA) dan didukung oleh USAID LEAD Project. Tujuan protokol Robusta adalah untuk menambah nilai pada kopi Robusta. Mengingat pada perkembangannya, cacat pada kopi Robusta sebagai komoditas maksimal sampai 450, sementara Arabika spesial adalah 8.

Nominal cacat di antara kedua spesies tersebut berjarak jauh yang pada akhirnya membuat Robusta menjadi anak tiri dalam kopi berkualitas. Melalui protokol Robusta itulah spesies kopi yang paling banyak diproduksi di Indonesia ini bisa diproses sampai dengan tingkat cacat yang sangat minim.

Adi W. Taroepratjeka, menyatakan, kopi Robusta bisa memiliki karakter rasa yang menarik jika proses penanaman hingga pascapanennya tepat guna, (17/12/2011). Pecinta kopi bisa mendapatkan karakter fruity bahkan mentimun dan accidity pada Robusta mampu berkualitas fine. Misalnya, petik merah, sortasi dengan meminimalisir cacat sedikit mungkin, dll.

Jadi persoalan istilah ataupun penyebutan jangan sampai kalah dengan proses dan keprotokolan yang mesti dijalankan agar menghasilkan cita rasa yang tidak hanya seksi dari sisi istilah namun utama adalah cita rasanya yang harus paripurna.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan, istilah atau penyebutan kata ‘premium’ pada sebuah produk kopi tidak berafiliasi ke salah satu jenis kopi saja. Artinya, kata ‘primium’ bisa merujuk pada jenis Robusta ataupun Arabika dan lainnya. Yang terpenting pada prosesnya yang berbeda dengan kopi komersil. [***]

 

Source:

https://espressocoffee.quora.com 

https://id.wikipedia.org 

https://majalah.ottencoffee.co.id

By |2019-03-14T09:18:01+00:0014/03/2019|Artikel|

Leave A Comment