Sisi Lain, Mistis Kopi Gading Cempaka

Home » Artikel » Sisi Lain, Mistis Kopi Gading Cempaka

Sisi Lain, Mistis Kopi Gading Cempaka

Nama Kopi Gading Cempaka bukan nama yang asal catat. Kalau dalam istilah kopi, bukan ‘kopi asalan’. Atau juga bukan nama yang hanya ingin ‘dompleng’ popularitas dari Putri Gading Cempaka.

Kopi Gading Cempaka memiliki silsilah tutur panjang walaupun namanya belum pernah tercatat dalam ‘buku sejarah’ perkopian Bengkulu bahkan Indonesia. Maklum, sejarah peradaban kita lebih dikenal dengan budaya tutur mulut ke mulut daripada budaya literasi. Kita kalah dengan Jepang kalau soal ‘catat-mencatat’.
Untuk itu, kami berkewajiban saat ini menjelaskan secara singkat dan padat apa yang masih tersimpan dalam ingatan para orang tua kita yang masih hidup.

Dahulu kala, hidup seorang petani kopi sekaligus ‘toke’ atau pengepul kopi di sebuah dusun tua yang belakangan diberi nama Desa Aur Gading. Desa ini masuk wilayah administrasi Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu.

Di Bengkulu Utara, Putri Gading Cempaka dipercaya sebagai leluhur dari kerajaan-kerajaan yang sempat muncul pasca Kerajaan Sungai Serut ‘hancur’. Sehingga Putri Gading Cempaka dipercaya sebagai sosok yang memiliki aura kedamaian, penuh kasih, dan bijaksana.

Kecantikan dan kecerdasan Putri Gading Cempaka tertanam sebagai sebuah manivestasi kekayaan alam bumi Bengkulu. Bumi yang subur dan dapat tumbuh segala macam tanaman yang bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya itu adalah kopi.

Desa Aur Gading merupakan desa tertua di Bengkulu Utara yang mayoritas penduduknya berasal dari suku Rejang. Suku terbesar di provinsi Bengkulu. Sebagian besar penduduknya adalah petani kopi.

Walaupun tidak terbilang dataran tinggi ‘ideal’ penghasil kopi terbaik, namun tanah Aur Gading sangat cocok dengan tanaman jenis kopi Robusta yang belakangan ditemukan celahnya sebagai kopi Robusta tradisional dengan rasa yang cukup baik.

Desa Aur Gading tidak jauh jaraknya dengan kota tua Curup, Rejang Lebong. Hanya butuh waktu 3 jam berjalan kaki menelusuri hutan untuk sampai Curup. Curup terkenal dengan penghasil kopi berkualitas karena merupakan dataran tinggi.

Kurang lebih pada tahun 1920 sebelum kemerdekaan, penduduk Aur Gading mulai mengembangkan pertanian kopi yang dalam catatan sejarah hampir bersamaan dengan kota Curup. Catatan ini hanya bentuk perkiraan. Kenapa bersamaan? Karena Aur Gading-Curup memiliki perkebunan yang sangat dekat satu sama lain.

Petani sekaligus ‘toke’ kopi ini merupakan sosok yang percaya bahwa Putri Gading Cempaka adalah titisan ‘malaikat’ dan sumber kesuburan di tanah Aur Gading, kemudian dia mengembangkan usahanya dengan membuat kopi bubuk yang dijual pada para pedagang yang melintas di perkampungan menuju kota Curup. Aur Gading dahulu kala merupakan jalur perdagangan alternatif menuju kota Curup.

Bukan hanya dijual untuk pedagang yang melintas perkampungan saja, pada perkembangannya juga dijual di pasar-pasar rakyat. Bahkan penjajah Belanda yang hidup di sana menyukai rajikan kopi bubuk karyanya.

Dalam penuturannya, kopi bubuk itu dia beri nama Kopi Gading Cempaka. Kopi yang membuat para penjajah ketagihan. Nikmatnya tergambar melalui kecantikan sosok putri bungsu titisan Majapahit anak dari Ratu Agung.

Nama desa Aur Gading dan Kopi Gading Cempaka sekilas sama karena mengandung satu kata sama. Namun berbedah jauh dari muasal sejarah nama desa tersebut. Aur berarti Bambu, Gading merupakan Kuning. Jadi Bambu Kuning yang dulu tumbuh subur di perkampungan. Walaupun saat ini sudah tidak ada lagi jejaknya.

‘Kopi Gading Cempaka’ penjajah menyebutnya adalah kopi candu. Bisa mematahkan alusinasi jadi kegirangan dan sumber kekuatan serta kebahagiaan.

Bukan hanya penjajah, pedagang juga merasakan kecanduan pada kopi ini. Kopi hasil perkebunan rakyat Aur Gading. Dekatnya Aur Gading dan Curup melahirkan karakter kopi yang tidak jauh berbeda. Para ‘toke’ banyak yang datang dari Curup untuk membeli hasil pertanian tiap musim atau sebaliknya patani sendiri yang menjual ke daerah Curup.

Itu sekilas cerita tutur dari tetuah desa Aur Gading tentang seorang petani sekaligus ‘toke’ kopi di masa lalu. [KGC]

Kopi Gading Cempaka menyediakan dua produk utama baik berupa ‘roasted beans’ ataupun ‘ground coffee beans’ dengan harga yang tidak menguras dompet [ada harga, ada kualitas]:

ROBUSTA PREMIUM
Isi 200 gram = 30.000*

ARABIKA PREMIUM
Isi 100 gram = 20.000*

*untuk harga Reseller or Dropshipper hubungi kontak di bawah ?

Cara pemesanan sebagaimana berikut ini:

A. Online:
– WA 08117321511/ 081995850700
– Twitter @kopigadingID
– Fanpage Kopi Gading Cempaka
– IG @kopigadingcempaka
– www.kopigadingcempaka.com

B. COD di studio Radio B-One FM Kota Bengkulu- Jalan S. Parman No. 117 Padang Jati Ratu Samban Kota Bengkulu.

————-☆☆☆
“Kopi Gading Cempaka, Berani Beda”

By |2018-02-07T19:04:48+00:0001/09/2017|Artikel|

Leave A Comment