Sempalan Cerita Kopi dan Sumpah Pemuda

Home » Artikel » Sempalan Cerita Kopi dan Sumpah Pemuda

Sempalan Cerita Kopi dan Sumpah Pemuda

Sembilan Puluh (90) tahun lalu, para pemuda Indonesia mengikrarkan diri, bertumpah darah satu, tanah Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Sebuah ikrar yang fundamental merubah cara pandang dan mental anak bangsa waktu itu. Heroisme dan patriotisme mendarah daging. Bahkan kedalamannya mungkin seperti hitam pekat kopi yang berada pada level ‘dark roast’.

Ada sisi ‘kenikmatan’, ketajaman pahit dan sisi yang memantulkan aura positif. Seperti pepatah Turky, “Coffee should be black as hell, strong as death and sweet as love”. Itulah haru biru semangat anak muda bangsa Indonesia bisa digambarkan kala itu.

90 tahun lalu. Sepanjang umur manusia jika diberkati. Perkembangan demi perkembangan terus mengalir dan beradu cepat. Tak bisa lalu kita menyamakan semuanya kala itu dengan kondisi kekinian.

Jika dianalogkan dengan proses roasting kopi tentu banyak hal yang perlu dicermati. Kemampuan mata menangkap, telinga mendengar atas sumber bunyi drum yang digerakkan oleh dinamo, serta ketajaman penciuman yang butuh selera segar sepanjang transisi. Hasilnya ditentukan.

Ada proses, dinamika dan gesekan antar satu biji dengan biji yang lain. Ada yang saling mengirim dan bertukar zat untuk memusnahkan kadar air. Bau sedikit ‘anyir’ pada masa transisi pasti ditemukan kala air mulai menyeruap kelaur dengan sedotan blower yang tak henti-henti dengan konsisten bekerja.

Tidak langsung jadi seduhan nikmat di dalam gelas yang bisa kita nikmati tanpa syarat. Tidak bisa kita mengabaikan proses dibalik skenario pemanggangan. Itulah akan jadi ciri paling dalam sumber kenikmatan pada secangkir kopi.

Yang berhasil pada level tertentu akan punya rasa lain, berikut level-level yang lain pada tempaan waktu mulai menit pertama hingga terakhir.

Tiap masanya punya cerita berbeda. Pada transisinya ada kelam. Perjalannya perlu kontrol tak bisa ditinggal begitu saja kendati melalui proses mesin paling canggih sekalipun.

Beruntung bagi yang teliti, mereka akan menuai hasil maksimal walaupun pasti tak sempurna karena tiap tuangan ada gejala tak bisa hanya ditangkap dalam kasap mata. Ada partikel-partikel yang membumbui. Tak 100 % sempurna. Namun kadarnya bisa diselilihkan tak terlalu banyak jika benar-benar dihasilkan dari konsentrasi utuh.

Begitulah tempaannya. Sumpah pemuda kala itu melewati masa kelam penjajahan yang sangat panjang dan melelahkan.

Masa kini bagaimana? Dimana arus ilmu pengetahuan dan teknologi tak terbentung dengan miliaran tantangan nyata. Otak sudah mulai dikotak-kotak. Akal sudah mulai kurang sehat. Ambisi sana-sani. Arogansi tiap sudut.

Tantangan paling nyata, kesukuan dan agama jadi komoditas politik yang katanya tidak bisa dibendung lagi. Sistem demokrasi jadi pembenaran melakukan tumpang tindih inkonsistensi kritik jika sudah berbeda pandangan. Oh. Kelam. Sungguh.

Jika sudah tidak konsisten, hama pragmatisme meracuni akal sehat dan pikiran. Sama halnya dengan kopi butuh konsisten untuk mendapatkan rasa yang pas dan sehat. Bukan hanya nyaman di lidah tapi juga elok dipandang.

Selamat Hari Sumpah Pemuda! [*]

By |2018-10-29T21:07:01+00:0029/10/2018|Artikel|

Leave A Comment