Aku Bukan Petani Kopi [1]

Home » General » Aku Bukan Petani Kopi [1]

Aku Bukan Petani Kopi [1]

“Kopi Robusta boleh ada dimana-mana. Tapi soal kenikmatan rasa, kopi robusta Bengkulu berani beda. Buah kopi robusta kami, lahir dari proses panjang tradisi perawatan yang sudah turun temurun. Karena itu, rasakan sensasi kopi robusta Bengkulu.”

Aku bukan anak petani kopi. Bukan juga petani kopi. Jadi aku tidak tahu soal kopi. Namun aku pelihat peluang, bahwa kopi punya masa depan baik di republik ini. Hampir tiap orang ‘ngopi’ tinggal kelas yang membedakan satu dengan yang lain. Ada kelas pengopi berat, sedang dan hanya sekedar ngopi. Itu dapat dipastikan tanpa harus rebet meriset.

Tentu aku tidak mau bicara soal data kopi. Berapa banyak tiap tahun diproduksi oleh petani. Berapa banyak petani kopi menghidupi keluarganya dengan berkopi. Berapa banyak anak-anak sukses kuliah dan jadi sarjana bahkan sukses dari hasil jerih payah di kebun. Menunggu panen tiap tahun, itupun tidak sekaligus panen. Bisa 2 kali hingga 3 kali panen tiap tahun.

Petani kopi sangat bergantung pada alam dan kondisi cuaca. Tidak boleh juga sering hujan pun tidak boleh kemarau berkepanjangan. Itu yang sangat menentukan. Bukan hanya pada tingkat produktivitas namun juga kualitas kopi itu sendiri.

Kopi itu penuh misteri. Butuh hati yang bersih dan intuisi yang tinggi dalam merawatnya. Butuh perawatan khusus agar dapat kualitas bagus. Itu lumrah. Bukan hanya kopi. Apapun itu jika dipertakukan istimewa pasti dapat hasil istimewa. Tanpa mengabaikan syarat syarat dasar yang diperlukan.

Aku tidak tahu kopi. Tapi aku tahu nasib petani kopi karena aku anak petani tembakau. Jauh kan, tembakau sama kopi tidak bisa bertemu kecuali sudah jadi rokok bisa dilinting sambil seruput kopi. Tidak jauh banget sih karena masih ada keterkaitan. Rokok lumrahnya bersanding dengan kopi walaupun tidak harus.

Nasib petani kopi sama seperti nasib petani tembakau. Selalu tidak bisa menentukan hasibnya sendiri. Nasibnya berada pada toke atau perusahaan kopi. Petani hanya bisa bertani tapi soal harga, hanya momen yang bisa menentukan serta rejeki masing masing. Jika beruntung akan dapat untung besar. Jika tidak sebaliknya.

Kondisi seperti ini tidak bisa kita biarkan begitu saja. Petani harus berbenah. Petani kopi harus mulai sadar agar taraf hidupnya bisa meningkat. Terkhusus petani yang hanya memiliki sepetak kebun untuk mati dan hidup.

Lantas siapa yang bisa merubah nasib petani kopi lebih baik? Dirinya sendiri. Hanya dirinya sendiri. Kenapa? Yang punya kebun siapa coba? Bukan kita kan?

Zaman sudah modern. Petani pasti punya anak yang pergaulannya pasti lebih baik dari bapaknya. Sudah pasti melek teknologi. Tanpa harus kursus yang detail soal kopi. Ya petani kopi pasti lebih tahu soal kopi. Namun mereka pasti asing soal istilah istilah melangit. Yang mereka tahu hanya istilah lokal yang substansinya sama saja.

Teknologi bisa menolong petani kopi lebih baik. Jika bisa akses internet, bisa melajar dari youtube dan artikel artikel soal kopi yang ribet dan sebagainya. Teknologi bisa membantu petani kopi menciptakan pasar sendiri dan menentukan harga sendiri tanpa tergantung pada pabrik. Tanpa mahal menyewa ruko buat toko. Bisa buka toko di facebook, youtube, instagram, twitter, dan fasilitas media sosial lain.

Ini aku memulai. Bukan petani kopi tapi jualan kopi. Kisahnya seperti di atas. Peluang kopi cukup besar. Saya tidak pernah kursus tapi saya belajar mendengar, membaca, melihat, bahkan belajar memetik kopi. Walaupun hanya satu kali aku lakukan namun itu cukup jika ingin mendiskripsikan soal penderitaan petani kopi. Kopi itu sangat sulit dan ribet.

Sudah tahu ribet prosesnya tapi kenapa harganya tetap murah. Ya karena petani kopi punya keterbatasan akses. Akses kurang, otomatis pengetahuannya pun berkurang. Coba petani kopi yang melek teknologi. Tidak akan kekurangan referensi dan akses pasar. Tidak harus jadi ahli kopi. Yang terpenting cukup tahu bagaimana menjaga kemurnian kualitas kopi. Pembeli pasti antri dan tidak putus pesanan.

Seperti aku, membaca peluang kopi baru beberapa bulan ini. Walaupun bukan ahli kopi, minimalnya tahu kalau kopi itu pahit. Sudah cukup.

Aku mulai memutuskan untuk terjun di dunia kopi dengan alasan di atas. Dengan begitu, jika ada banyak muncul seperti saya dan aku yang lain, pasti petani kopi akan diuntungkan. Semakin banyak pedagang kopi maka akan semakin besar daya tawar petani kopi. Itu rumus aku. Bisa diperdebatkan. Tapi jika tidak menguntungkan pada petani kopi, cukup kita ngopi saja tanpa berbedat.

Aku memutuskan memberi nama merk jualan kopiku, KOPI GADING CEMPAKA. Nama pasaran. Persis karena sudah tidak asing lagi. Jika menyebut Gading Cempaka pasti teringat legenda Putri Gading Cempaka di Bengkulu. Kenapa dikaitkan dengan sang legenda? Ya simpel, biar mudah mengingatnya. Walaupun ada dasar lain. Namun biar itu hanya aku yang tahu. Kalau mau tahu detail temui saja aku sambil ngopi. Aku akan ceritakan asal usulnya. Enak kan. Sambil ngopi Kopi Gading Cempaka. Tentu di rumah aku atau di rumah Anda.

Kita lanjut kisahnya setelah Anda tahu sekilas bahwa ada merk Kopi Gading Cempaka. Detail dan cerita cerita yang lain, aku lanjutkan setelah minum kopi. 😃😃😃

By |2018-02-07T19:05:35+00:0005/12/2017|General|

Leave A Comment