Kopi Rabusta, Peluang Ekonomi dan Ikon Kuliner Bengkulu

Home » General » Kopi Rabusta, Peluang Ekonomi dan Ikon Kuliner Bengkulu

Kopi Rabusta, Peluang Ekonomi dan Ikon Kuliner Bengkulu

Kopi Rabusta memiliki peluang ekonomi tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan para petani kopi di provinsi Bengkulu. Bahkan Kopi Rabusta bisa menjadi ikon kuliner Bengkulu yang bisa dibanggakan ke dunia luar.

Dalam hal ini, salah seorang putra daerah putra Bengkulu Fadlan Barakah mendedikasikan diri sebagai penggiat Kopi Robusta. Dia mencoba untuk lebih memperkenalkan kopi jenis ini dengan tujuan untuk membantu petani kopi.

Namun dalam mempromosikan Kopi Robusta tersebut, diakui Fadlan banyak ditemui kendala. Baik dari petani sendiri ataupun hal lain. Seperti dari cara pengolahan pasca panen, petani setempat memetik buah kopi berkualitas ini masih asal – asalan sehingga berujung pada rendahnya kualitas kopi.

“Wajar jika selama ini produk Kopi Rabusta asal kabupaten Rejang Lebong dijual dengan harga rendah, yakni berkisar 15 hingga 20 ribu rupiah perkilonya. Hal ini karena komoditas kopi yang ada tidak diolah secara baik, layaknya yang selama ini dilakukan di daerah wilayah pulau Jawa,” jelas Fadlan Barakah yang sejak beberapa tahun lalu berkuliah di Jogjakarta jurusan Sosiologi, saat berkunjung di Media Center Pemprov Bengkulu (23/08).

Ditambahkan Fadlan, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan mempromosikan Kopi Robusta asal Rejang Lebong ini. Dari sisi produksi, para petani harus dibekali fasilitasi mesin kupas (Pulper). Selanjutnya penjemuran dengan metode hidroskopik, yaitu dengan menjemur kopi tidak langsung di atas tanah namun dijemur menggunakan tatakan (para – para) dengan ketinggian minimal 50 cm di atas tanah. Pasalnya selama ini petani menjemur kopi langsung di atas tanah, sehingga rasa kopi menjadi rasa tanah.

Selain itu, petani tidak menggunakan alat deteksi kadar air kopi sebagai penentu kualitas. Kopi berkualitas tinggi pasti memiliki kadar air 13 persen, sementara Kopi Robustas Bengkulu diketahui memiliki kadar air lebih dari 20 persen.

“Seharusnya pengolahan Kopi Robusta lebih baik, untuk menghasilkan rasa kopi yang berkualitas. Ini juga bisa jadi ikon Bengkulu ke depan,” tambah Fadlan.

Fadlan berharap, dengan metode pengolahan dan pemasaran yang baik, harga Kopi Robusta Bengkulu bisa bersaing di pasaran nasional dengan harga 45 hingga 50 ribu rupiah perkilo. Seperti halnya harga kopi di pulau Jawa.

Untuk diketahui, lahan pertanian kopi jenis Robusta di kabupaten Rejang Lebong tergolong luas yakni sekitar 20.197 hektar. Dengan rincian lahan, kopi muda seluas 1.633 hektar dan luas lahan kopi tua rusak sekitar 17.000 hektar (data BPS RI 2015).

Sementara, awal mula masuknya kopi jenis Robusta ke Provinsi Bengkulu dibawa oleh pemerintah Belanda pada tahun 1900-an, saat bangsa Belanda masih menjajah Indonesia.

Sumber: www.gerbangbengkulu.com

By | 2018-02-07T19:23:53+00:00 06/02/2018|General|

Leave A Comment