Aku Bukan Petani Kopi [2]

Home » General » Aku Bukan Petani Kopi [2]

Aku Bukan Petani Kopi [2]

“Coffee should be black as hell, strong as death and sweet as love.” ~Pepatah Turki.

Kopi harus sehitam neraka, sekuat kematian dan semanis cinta. Ada tiga kata menarik menggambarkan betapa kopi memiliki keunikan dan kesempurnaan tersendiri bagi para penikmatnya. Itu tafsirku.

Neraka, Kematian, dan Cinta. Neraka, tempat dimana tidak ada umat manusia yang menginginkannya setelah Kematian tiba. Cinta semua umat manusia menginginkan hingga Kematian pun tiba. Kompleks bukan kopi itu.

Tidak disukai tapi dicari. Tidak diinginkan tapi sudah kecanduan. Sudah mafhum dijagat raya ini, kopi jadi konsumsi tidak bisa dipisahkan dari akar kehidupan manusia. Terlalu berat mendiskripsikan soal kopi. Apalagi hanya saya yang tidak tahu apa-apa soal kopi.

Tiap orang punya tafsir sendiri soal rasa. Tapi soal kopi itu tetap hitam dan pahit, namun menempel rasa manis mandiri tanpa gula sekalipun. Pernah coba? Itu hanya ada pada proses roasting [sangrai].

Kopi itu kehidupan. Pahitnya menempel lekat dengan manis yang tersisa. Itu kehidupan. Pahit manis dan getir berjalan berurutan. Tinggal sikap dan kebijaksaan diri untuk mengkomperasikannya menjadi apa.

Aku bukan petani kopi. Tidak bisa terlalu jauh bicara soal kopi. Apalagi tidak pernah sekolah khusus belajar dan tahu sejarah dan perkembangan kopi. Aku tidak mau jauh dan terlalu bicara kopi.

Biarlah kopiku tak aduk sendiri. Kopimu kau gulai sendiri. Kopi kita tetap akan sama. Rasa pahit ada. Rasa manis melekat.

Mari kita jualan kopi saja. Saya punya Kopi Gading Cempaka, kamu punya kopi merk apa. Kita kompetesi agar petani kopi bahagia karena order kita. Petani kopi tidak perlu kita ceramahi soal istilah istilah yang berat dan jauh dari akar kebudayaannya. Mereka cukup kita dekati. Kita buatkan pasar tanpa mereka sadar, mereka sudah lebih baik dari yang biasanya.

Kita suguhkan rasa manis bagi petani kopi. Getirnya kita ruangkan dalam akses pasar yang seluas luasnya. Tanpa ragu. Tanpa takut karena kopi Bengkulu tidak yang terbaik. Namun punya cita rasa berbeda dengan kopi lain. Karena yang terbaik itu tidak ada. Itu tafsirku.

Kita sudah kalah dengan kopi daerah lain. Kalah dalam pencitraan. Kalah dalam akses pasar. Namun kita akan menang dalam cita rasa alami dan murni. Itu lah ketulusan kita. Kita persembahkan yang terbaik untuk para petani kita. Petani kopi Bengkulu harus bangkit, bangkit, dan terus bangkit. [The end]

By |2018-02-07T19:21:36+00:0021/12/2017|General|

Leave A Comment